عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ. وَنَاصِحٌ هُوَ ابْنُ الْعَلاَءِ كُوفِىٌّ لَيْسَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ بِالْقَوِىِّ وَلاَ يُعْرَفُ هَذَا الْحَدِيثُ إِلاَّ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَنَاصِحٌ شَيْخٌ آخَرُ بَصْرِىٌّ يَرْوِى عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِى عَمَّارٍ وَغَيْرِهِ هُوَ أَثْبَتُ
مِنْ هَذَا
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
“Lebih baik bagi seseorang mendidik anaknya daripada bersedekah dengan satu sha’ (takaran).”Abu ‘Isa berkata: Hadis ini adalah hadis yang asing (gharib). Nāsih adalah Ibnu al-‘Alā’ Al-Kūfī, dan ia tidak termasuk perawi yang kuat menurut para ahli hadis, dan hadis ini tidak dikenal kecuali dari jalur ini saja. Ada juga seorang Nāsih lain, seorang tua dari Basrah, yang meriwayatkan dari ‘Ammar bin Abi ‘Ammar dan lainnya, yang lebih shahih daripada ini.
Hadis ini menegaskan pentingnya mendidik anak sebagai suatu amal yang lebih utama dibandingkan sedekah materi berupa satu sha’ makanan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa usaha mendidik dan membimbing anak menuju kebaikan memiliki nilai yang sangat besar dan berdampak jangka panjang bagi individu dan masyarakat. Meskipun sanad hadis ini tergolong asing (gharib) dan perawinya dari kalangan yang kurang kuat menurut sebagian ahli hadis, pesan moral dan maknanya tetap relevan dan selaras dengan ajaran Islam tentang pentingnya tanggung jawab orang tua dalam mendidik generasi penerus. Dengan demikian, mendidik anak adalah amal mulia yang harus didahulukan karena membentuk karakter anak merupakan investasi utama dalam membangun umat yang baik dan berakhlak.