عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدْخُلُ عَلَيْنَا وَلِى أَخٌ صَغِيرٌ يُكْنَى أَبَا عُمَيْرٍ وَكَانَ لَهُ نُغَرٌ يَلْعَبُ بِهِ فَمَاتَ فَدَخَلَ عَلَيْهِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ فَرَآهُ حَزِينًا فَقَالَ « مَا شَأْنُهُ ». قَالُوا مَاتَ نُغَرُهُ فَقَالَ « يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ »
رواه أنس بن مالك
Dari Anas bin Malik, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ biasa masuk ke rumah kami, dan saya memiliki seorang saudara kecil yang disebut Abu Umayr. Dia memiliki burung kecil (nughayr) yang biasa dia mainkan. Burung itu mati, lalu pada suatu hari Nabi ﷺ masuk dan melihatnya dalam keadaan sedih. Beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi dengan dia?’ Kami menjawab, ‘Burung kecilnya mati.’ Beliau lalu berkata, ‘Wahai Abu Umayr, bagaimana dengan burung kecilnya?”
Hadis ini menggambarkan sisi kemanusiaan dan kelembutan Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Nabi ﷺ mengunjungi rumah Anas bin Malik, beliau melihat ada kesedihan karena anak kecil yang bernama Abu Umair sedang sedih karena mainannya (nughar) telah mati atau hilang. Nabi ﷺ kemudian menanyakan dengan penuh kasih sayang tentang keadaan mainan itu, menunjukkan perhatian beliau terhadap perasaan anak-anak bahkan terhadap hal-hal kecil. Hal ini mengajarkan kita pentingnya empati dan perhatian terhadap perasaan orang lain, terutama anak-anak, serta bagaimana Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam bersikap lembut dan penuh kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari.