عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يُؤْتَى بِالصِّبْيَانِ، فَيُبَارِكُ عَلَيْهِمْ، وَيُحَنِّكُهُمْ، فَأُتِيَ بِصَبِيٍّ فَبَالَ عَلَيْهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ، وَلَمْ يَغْسِلْهُ
رواه البخاري 233
Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata, bahwa Rasulullah ﷺ biasa mendatangkan anak-anak kecil kepada Beliau untuk memberi berkah (yubāriku ‘alayhim) dan mencicipkan manisan kurma (yaḥnikkum) kepada mereka. Suatu ketika dibawa seorang bayi yang menangis (mālaḥa ‘alayhi), lalu Beliau memanggil air dan memercikkannya mengikuti tempat terkena kencing (atba‘ahu bi-bawlihi) tanpa mencucinya secara menyeluruh
Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ biasa didatangkan bayi-bayi kecil untuk didoakan keberkahan dan di-tahnik (mengunyah kurma lalu memasukkannya ke mulut bayi), menunjukkan kasih sayang beliau kepada anak-anak dan pentingnya doa sejak dini. Ketika salah satu bayi tersebut kencing di pangkuannya, Nabi ﷺ tidak marah, melainkan hanya meminta air lalu menyiram bagian yang terkena tanpa mencucinya secara menyeluruh. Ini menunjukkan kelembutan beliau, serta memberikan pelajaran fiqih bahwa najis ringan dari bayi yang hanya mengonsumsi ASI cukup disiram tanpa perlu digosok atau dicuci, berbeda dengan najis lainnya. Hadis ini mencerminkan kemudahan Islam dalam hal bersuci serta adab Nabi ﷺ dalam memperlakukan anak kecil.