Melatih anak puasa


عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ أَرْسَلَ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ «مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيَصُمْ» قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ، أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عِنْدَ الإِفْطَارِ

 رواه البخاري (1960)

Diriwayatkan dari al-Rubay’ binti Mu‘adh, ia berkata:
“Pada pagi hari ‘Asyura, Nabi ﷺ mengirim pesan ke desa-desa kaum Anshar:”Barangsiapa yang pagi ini telah berbuka (karena lupa sahur), hendaklah ia menyempurnakan puasa hari itu hingga Maghrib; dan barangsiapa yang pagi ini telah berpuasa (sudah sahur), hendaklah ia meneruskan puasanya.”

Lalu kami meneladani beliau dengan berpuasa pada hari ‘Asyura setiap tahunnya, dan kami pun mengajak anak-anak kami berpuasa kecil. Kami membuatkan mereka mainan dari kain wol agar terhibur, dan apabila ada yang menangis karena lapar, kami beri sedikit makanan supaya ia tenang hingga tiba waktu berbuka.”

Hadits ini menunjukkan sikap moderat dan penuh kasih sayang Nabi ﷺ dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dengan memberi kelonggaran bagi yang tidak sempat sahur agar tetap melanjutkan puasa tanpa merasa terbebani, serta menegaskan keutamaan melanjutkan puasa bagi yang sudah sahur. Tradisi kaum Anshar dalam membiasakan anak-anak berpuasa secara bertahap dengan cara yang menyenangkan—seperti memberi permainan dari wol dan memberi makanan jika anak menangis—menggambarkan pendekatan Islam yang lembut dan mendidik, menekankan pentingnya menanamkan nilai ibadah sejak dini dengan kasih sayang, fleksibilitas, dan perhatian terhadap kesejahteraan keluarga.