عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى ٱللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ ٱلْعَبْدُ يَوْمَ ٱلْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ ٱنْتُقِصَ مِنْهَا شَيْءٌ، قَالَ: ٱنْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ؟ يُكَمَّلُ لَهُ مَا ضَيَّعَ مِنَ ٱلْفَرِيضَةِ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ سَائِرُ ٱلْأَعْمَالِ تَجْرِي عَلَىٰ حَسَبِ ذَٰلِكَ (روه النسائ: ٤٦٥)
Hadis dari abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat sebagai sempurna, tetapi jika terdapat kekurangan dalam shalatnya, Allah akan berkata, periksa apakah hamba-ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan dalam shalat fardunya, setelah itu, baru amalan lainnya akan dihitung sesuai dengan kondisinya (HR an-Nasa’i 465)
Hadis ini menekankan bahwa shalat adalah amalan pertama yang akan dihitung dan diperiksa pada hari kiamat, jika seorang hamba melaksanakan shalat dengan sempurna, maka shalat tersebut akan tercatat sebagai sempurna, namun jika ada kekurangan dalam pelaksanaan shalatnya, Allah akan memeriksa apakah ia memiliki amalan sunnah yang dapat menutupi kekurangan tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim, karena shalat menjadi penentu awal bagi diterimanya atau ditolaknya amalan-amalan lainnya. Hadits ini juga mengingatkan kita untuk tidak hanya fokus pada kewajiban shalat, tetapi juga untuk melengkapi dengan amalan sunnah sebagai upaya untuk menyempurnakan kekurangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan shalat fardu, dengan demikian, penting bagi setiap muslim untuk menjaga kualitas shalatnya dan memperbanyak amalan sunnah agar amalan tersebut dapat menyempurnakan kekurangan shalat fardunya, sehingga memperoleh penerimaan di sisi Allah pada hari kiamat.