Hadis 10 : Puasa Pada Saat Safar


عَنْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ حَمْزَةَ بْنَ عَمْرٍو الأَسْلَمِىَّ قَالَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – أَأَصُومُ فِى السَّفَرِ وَكَانَ كَثِيرَ الصِّيَامِ . فَقَالَ « إِنْ شِئْتَ فَصُمْ ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ » . (رواه البخاري: ۱٩٤۳)

telah menceritakan Aisyah RA, istri Nabi Muhammad SAW, bahwa Hamzah bin ‘Amr al-Aslamī pernah berkata kepada Nabi SAW : “Apakah aku boleh berpuasa saat dalam perjalanan?” Hamzah dikenal sebagai orang yang sering berpuasa. Maka Nabi SAW bersabda: Jika engkau mau, maka berpuasalah. Dan jika engkau mau, maka berbukalah (tidak berpuasa).” [Hr  al-Bukhari : 1943]

Hadis ini menunjukkan bahwa berpuasa saat dalam perjalanan (safar) hukumnya adalah boleh, dan tidak berpuasa juga boleh. Islam memberikan kelonggaran (rukhṣah) kepada orang yang bepergian untuk tidak berpuasa, tetapi jika seseorang merasa mampu dan tidak memberatkan dirinya, maka ia tetap boleh berpuasa. Dalam konteks ini, Nabi tidak memerintahkan ataupun melarang, melainkan memberikan pilihan sesuai dengan kondisi dan kemampuan individu. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat Islam dan perhatiannya terhadap kemudahan umat.