عَنْ أُمِّ الْفَضْلِ بِنْتِ الْحَارِثِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ : إِنَّ نَاسًا اَخْتَلَفُوا عِندَهَا يَوْمَ عَرَفَةَ فِي صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ هُوَ صَائِمٌ وَقَالَ بَعْضُهُمْ لَيْسَ بِصَائِمٍ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ بِقَدَحٍ مِنْ لَبَنٍ وَهُوَ وَاقِفٌ عَلَى بَعِيرِهِ فَشَرِبَ. (رواه البخاري : ۱۵٧٨)
dari Ummu Al Fadll binti Al Harits RA bahwa: Orang-orang ragu tentang puasa Nabi SAWpada hari ‘Arafah. Sebagian dari mereka mengatakan Beliau berpuasa, sebagian yang lain mengatakan tidak, Lalu aku utus seseorang membawakan segelas susu ketika Beliau sedang wuquf, maka Beliau meminumnya. [Hr al-Bukhari : 1578]
Hadis ini menceritakan tentang keraguan sebagian sahabat mengenai apakah Nabi SAW berpuasa pada hari Arafah atau tidak. Hal ini terjadi pada Hari Arafah yang merupakan hari kesembilan bulan Zulhijah, yang terkenal dengan puasa Arafah yang sangat dianjurkan.