عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْمَرَ قَالَ شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَتَاهُ نَاسٌ فَسَأَلُوهُ عَنِ الْحَجِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « الْحَجُّ عَرَفَةُ فَمَنْ أَدْرَكَ لَيْلَةَ عَرَفَةَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ مِنْ لَيْلَةِ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ ».(رواه النسائي: ٣٠٢٩)
Artinya: hadis dari Abdurrahman bin Ya’mar ad-Daili, ia berkata: aku menyaksikan Nabi SAW sedang wukuf di Arafah. Lalu datang sekelompok orang dari Najd dan bertanya kepada beliau tentang haji. Maka Rasulullah bersabda: haji adalah (wukuf) di Arafah. Siapa yang datang (berwukuf) sebelum shalat Subuh pada malam Muzdalifah, maka ia telah mendapatkan (haji). Dan hari-hari Mina ada tiga. Maka siapa yang menyegerakan (melempar jumrah) dalam dua hari, tidak berdosa; dan siapa yang menunda sampai hari ketiga, juga tidak berdosa. (HR. al-Nasai: 3029)
Hadis ini menjelaskan tentang inti dan rukun utama dalam ibadah haji. Ketika beberapa orang datang dan bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai haji, Rasul menjawab dengan tegas bahwa “Haji itu adalah Arafah.” Kemudian Rasul menambahkan penjelasan yang sangat penting, yaitu siapa saja yang mendapati malam Arafah sebelum terbit fajar pada malam Muzdalifah (yang disebut juga malam jam’in), maka sungguh telah sempurna hajinya. Kandungan utama hadis ini adalah penegasan bahwa wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada waktu yang telah ditentukan merupakan rukun yang paling esensial dalam ibadah haji. Jika seorang jamaah haji tidak melaksanakan wukuf di Arafah dalam rentang waktu tersebut, maka hajinya tidak sah. Hadis ini menunjukkan betapa krusialnya momen wukuf di Arafah sehingga menjadi penentu sah atau tidaknya ibadah haji seorang muslim.