عَنِ الزُّهْرِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ إِذَا رَمَى الْجَمْرَةَ الَّتِى تَلِى مَسْجِدَ مِنًى يَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ ، ثُمَّ تَقَدَّمَ أَمَامَهَا فَوَقَفَ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو ، وَكَانَ يُطِيلُ الْوُقُوفَ ، ثُمَّ يَأْتِى الْجَمْرَةَ الثَّانِيَةَ ، فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ ، يُكَبِّرُ كُلَّمَا رَمَى بِحَصَاةٍ ، ثُمَّ يَنْحَدِرُ ذَاتَ الْيَسَارِ مِمَّا يَلِى الْوَادِىَ ، فَيَقِفُ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ رَافِعًا يَدَيْهِ يَدْعُو ، ثُمَّ يَأْتِى الْجَمْرَةَ الَّتِى عِنْدَ الْعَقَبَةِ فَيَرْمِيهَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ، يُكَبِّرُ عِنْدَ كُلِّ حَصَاةٍ ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ وَلاَ يَقِفُ عِنْدَهَا. (رواه البخاري: ۱٧٥٣)
Artinya: hadis dari az-Zuhri, bahwa Rasulullah SAW ketika melempar jamrah yang terdekat dengan Masjid Mina, ia melemparnya dengan tujuh batu kerikil, dan mengucapkan takbir setiap kali melempar satu batu. Kemudian ia melangkah maju di depannya, berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan dan berdoa, dan ia memperpanjang waktu berdiri. Setelah itu, ia menuju jamrah kedua, melemparnya dengan tujuh batu kerikil, mengucapkan takbir setiap kali melempar batu, lalu ia bergerak ke arah kiri, menuju lembah, dan berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan berdoa. Kemudian ia menuju jamrah yang terletak di dekat Aqabah, melemparnya dengan tujuh batu kerikil, mengucapkan takbir setiap kali melempar batu, kemudian ia pergi dan tidak berhenti di dekatnya. (HR. al-Bukhari: 1753)
Hadis yang diriwayatkan dari az-Zuhri menjelaskan tata cara Rasulullah SAW dalam melaksanakan ibadah melontar jumrah. Rasulullah memulai dengan melontar Jumrah Ula (jumrah yang dekat dengan Masjid Mina) dengan tujuh kerikil, sambil bertakbir pada setiap lontaran. Setelah itu, ia maju ke depan jumrah tersebut, berdiri menghadap kiblat sambil mengangkat kedua tangan untuk berdoa dalam waktu yang lama. Kemudian, ia mendatangi Jumrah Wustha (jumrah yang kedua), melontarnya juga dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap lontaran. Setelah itu, ia bergeser ke sisi kiri, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan kembali berdoa dengan waktu yang cukup lama. Terakhir, ia mendatangi Jumrah Aqabah (jumrah yang terakhir), melontarnya dengan tujuh kerikil sambil bertakbir pada setiap lontaran, lalu ia langsung pergi tanpa berhenti untuk berdoa di sisinya. Hadis ini memberikan gambaran yang jelas tentang sunnah Rasulullah dalam melontar jumrah, termasuk jumlah kerikil, bertakbir pada setiap lontaran, serta pentingnya berdoa dengan khusyuk dan waktu yang cukup lama setelah melontar Jumrah Ula dan Wustha, berbeda dengan Jumrah Aqabah yang tidak ada anjuran untuk berdoa setelahnya.