عَنْ أَبِى الْبَدَّاحِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَخَّصَ لِرِعَاءِ الإِبِلِ فِى الْبَيْتُوتَةِ يَرْمُونَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَرْمُونَ الْغَدَ وَمِنْ بَعْدِ الْغَدِ بِيَوْمَيْنِ وَيَرْمُونَ يَوْمَ النَّفْرِ. (رواه ابي داود: ۱٩٧٧)
Artinya: hadis dari Abu al-Baddah bin ‘Asim, dari ayahnya, bahwa Rasulullah SAW memberikan keringanan kepada para penggembala unta untuk tidak bermalam (mabit) di Mina, mereka boleh melempar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), kemudian pada hari berikutnya dan dua hari setelahnya, lalu melempar lagi pada hari mereka meninggalkan Mina (hari Nafar). (HR. Abi Daud: 1977)
Hadis ini mengindikasikan adanya keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada para penggembala unta terkait pelaksanaan ibadah melontar jumrah saat musim haji. Keringanan tersebut berupa diperbolehkannya mereka untuk tidak bermalam (mabit) di Mina pada malam-malam tertentu. Mereka diperbolehkan melontar jumrah pada hari Nahr (10 Dzulhijjah), kemudian melontar lagi pada hari berikutnya (11 Dzulhijjah), dan dua hari setelahnya (12 dan 13 Dzulhijjah). Mereka juga diperbolehkan melontar pada hari Nafar Awal (12 Dzulhijjah bagi yang ingin segera meninggalkan Mina) atau Nafar Tsani (13 Dzulhijjah bagi yang menunda kepulangan). Kandungan utama hadis ini adalah pemberian kemudahan bagi kelompok tertentu yang memiliki uzur atau kesulitan dalam melaksanakan rangkaian ibadah haji secara penuh, khususnya terkait mabit dan waktu melontar jumrah, demi menjaga kelancaran tugas mereka dalam mengurus hewan ternak.