عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – رَأَى رَجُلاً يَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ بِزِمَامٍ أَوْ غَيْرِهِ ، فَقَطَعَهُ . (رواه البخاري: ٦٧٠٢)
Artinya: hadis dari Ibn Abbas RA, ia berkata: Rasulullah SAW melihat seorang lelaki yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah dengan menggunakan zimam (seutas tali atau penutup kepala) atau yang sejenisnya, lalu beliau memotongnya. (HR. al-Bukhari: 6702)
Hadis ini menjelaskan tentang tindakan Nabi SAW ketika melihat seorang laki-laki melakukan tawaf di Ka’bah dengan menggunakan tali kekang atau semacamnya (zimam) untuk menuntun dirinya. Melihat hal tersebut, Nabi SAW memotong tali kekang tersebut. Kandungan utama hadis ini adalah larangan melakukan tawaf dengan cara yang tidak lazim atau yang menunjukkan kurangnya penghormatan dan kesungguhan dalam beribadah. Tawaf seharusnya dilakukan dengan berjalan kaki secara mandiri di sekitar Ka’bah sebagai bentuk ketaatan dan pengagungan kepada Allah. Penggunaan tali kekang dalam tawaf dapat mengindikasikan ketidakmampuan fisik yang mungkin menggugurkan kewajiban tawaf atau menunjukkan sikap yang kurang khusyuk dan tawadhu’ di hadapan Allah. Tindakan Nabi yang langsung memotong tali tersebut menunjukkan ketidaksetujuan beliau terhadap praktik yang tidak sesuai dengan adab dan tata cara ibadah yang benar.