Haji setara dengan Jihad


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – سُئِلَ أَىُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ «إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ» قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ «حَجٌّ مَبْرُورٌ » (رواه البخاري: ۲٦)

Artinya: hadis dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW ditanya, amalan manakah yang lebih utama? Rasulullah menjawab, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu Rasulullah ditanya lagi, kemudian apakah? Rasulullah menjawab: jihad fi-sabilillah. Rasulullah masih ditanya lagi, kemudian apakah? Rasulullah menjawab: haji yang mabrur. (HR. al-Bukhari: 26)

Hadis ini menjelaskan bahwa: 1). Iman kepada Allah dan Rasul-Nya: ini adalah fondasi utama dari seluruh amalan. Iman yang benar dan kokoh kepada Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-Nya merupakan amalan yang paling utama. Iman ini mencakup keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan implementasi dalam perbuatan. 2). Jihad di Jalan Allah: setelah iman, Rasulullah SAW menyebutkan jihad di jalan Allah sebagai amalan yang paling utama berikutnya. Jihad di sini memiliki makna yang luas, tidak hanya terbatas pada peperangan fisik, tetapi juga mencakup segala bentuk perjuangan untuk menegakkan agama Allah, seperti berdakwah, menuntut ilmu, memerangi hawa nafsu, dan membela kebenaran. 3). Haji yang Mabrur: amalan utama yang ketiga adalah haji yang mabrur. Haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT, yang ditandai dengan pelaksanaan rukun dan wajib haji sesuai dengan tuntunan syariat, menjauhi segala larangan ihram, serta adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik setelah menunaikan ibadah haji.