Keutamaan Dzikir Pagi dan Sore untuk Perlindungan


قَالَ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مَا مِنْ عَبْدٍ يَقُولُ فِى صَبَاحِ كُلِّ يَوْمٍ وَمَسَاءِ كُلِّ لَيْلَةٍ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ فَيَضُرُّهُ شَىْءٌ ». وَكَانَ أَبَانُ قَدْ أَصَابَهُ طَرَفُ فَالَجِ فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ لَهُ أَبَانُ مَا تَنْظُرُ أَمَا إِنَّ الْحَدِيثَ كَمَا حَدَّثْتُكَ وَلَكِنِّى لَمْ أَقُلْهُ يَوْمَئِذٍ لِيُمْضِىَ اللَّهُ عَلَىَّ قَدَرَهُ..(رواه لترمذى:٣٧١٦)

 

Artinya: Utsman bin Affan R.a berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Tiada seorang hamba pun yang mengucapkan pada pagi hari setiap hari dan malam hari setiap malam, ‘Bismillahillazi la yadurru ma’asmihi shay’un fi al-ard wa la fi as-samaa’ wa huwa as-samee’ al-aleem’ (Dengan nama Allah yang tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), tiga kali, melainkan sesuatu yang membahayakan dirinya tidak akan terjadi.”Dan Aban (yang meriwayatkan hadis ini) menceritakan bahwa dia pernah terkena sebagian penyakit lumpuh (falaj), lalu seseorang melihat kepadanya, dan Aban berkata: “Apa yang kamu lihat? Sesungguhnya hadis ini benar sebagaimana yang telah aku ceritakan kepadamu, namun pada hari itu aku tidak mengucapkannya, agar Allah mengabulkan takdir-Nya atas diriku.”(H.R at-Tirmizi:3716)

Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan dzikir yang dibaca di waktu pagi dan sore untuk mendapatkan perlindungan dari segala bentuk bahaya. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa saja yang mengucapkan “Bismillahillazi la yadurru ma’asmihi shay’un fi al-ard wa la fi as-samaa’ wa huwa as-samee’ al-aleem” (Dengan nama Allah yang tidak ada yang membahayakan bersama nama-Nya baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) tiga kali di pagi dan sore hari, maka sesuatu yang membahayakan dirinya tidak akan terjadi. Dzikir ini menjadi sarana untuk memohon perlindungan dari Allah, karena dengan menyebut nama-Nya, seorang hamba meminta perlindungan dari segala macam bahaya yang mungkin terjadi, baik di dunia maupun di langit. Kisah dari Aban yang pernah terkena penyakit lumpuh mengingatkan kita bahwa meskipun dzikir ini sangat bermanfaat untuk perlindungan, takdir Allah tetaplah yang utama. Aban mengakui bahwa pada saat ia tidak mengucapkan dzikir tersebut, Allah tetap mengabulkan takdir-Nya, dan ini menunjukkan bahwa semua yang terjadi pada diri kita adalah bagian dari takdir Allah yang harus diterima dengan penuh keimanan. Namun, dzikir ini tetap menjadi amalan yang dianjurkan untuk menjaga diri dari hal-hal yang membahayakan.