عَنْ أَبِى سَلَمَةَ أَنَّ رَبِيعَةَ بْنَ كَعْبٍ الأَسْلَمِىَّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ يَبِيتُ عِنْدَ بَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَكَانَ يَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ مِنَ اللَّيْلِ « سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ». الْهَوِىَّ ثُمَّ يَقُولُ « سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ».(رواه ابن ماجه:٤٠١٢)
Artinya:Dari Abu Salamah, bahwa Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami memberitahunya: Bahwa ia pernah bermalam di depan pintu Rasulullah Saw, dan ia biasa mendengar Rasulullah Saw, di malam hari sedang mengucapkan:“Subhānallāh Rabbal-‘ālamīn”(Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam)Lalu beliau mengucapkan:”Subhānallāhi wa bihamdih”(Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) (H.R Ibnu Majah:4012)
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan dzikir yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada malam hari. Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami menceritakan bahwa ia pernah bermalam di depan pintu rumah Rasulullah SAW dan mendengar beliau mengucapkan dzikir yang penuh makna. Rasulullah SAW mengucapkan “Subhānallāh Rabbal-‘ālamīn” (Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) dan “Subhānallāhi wa bihamdih” (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya). Dzikir ini menunjukkan betapa pentingnya untuk memuji dan mengagungkan Allah, terutama pada waktu malam yang penuh kedamaian.