حَدَّثَنِى أَبِى عُمَرُ بْنُ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ بِلاَلَ بْنَ يَسَارِ بْنِ زَيْدٍ مَوْلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ سَمِعْتُ أَبِى يُحَدِّثُنِيهِ عَنْ جَدِّى أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ »..(رواه لترمذى:١٥١٩)
Artinya:Dari Umar bin Murrah, ia berkata: “Saya mendengar Bilal bin Yasaar bin Zaid, maula (budak yang dimerdekakan) Nabi ﷺ, berkata: ‘Saya mendengar ayahku menceritakan kepadaku dari kakekku, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan: ‘Astaghfirullaha ladzi la ilaha illa Huwa, al-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilayh’ (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus, dan aku bertaubat kepada-Nya), maka dia akan diampuni, meskipun dia lari dari pertempuran (zahf).”‘”(H.R at-Tirmizi)
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan memohon ampun kepada Allah dan bertaubat. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa siapa saja yang mengucapkan “Astaghfirullaha ladzi la ilaha illa Huwa, al-Hayyul-Qayyum, wa atubu ilayh” (Aku memohon ampun kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Mengurus, dan aku bertaubat kepada-Nya), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Bahkan, meskipun seseorang telah melakukan dosa besar, seperti lari dari pertempuran (zahf), yang dianggap sebagai dosa besar dalam konteks peperangan, jika dia benar-benar bertaubat dan memohon ampun dengan tulus, Allah akan mengampuninya. Dzikir ini menunjukkan pentingnya kesungguhan dalam bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, karena Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat. Ini mengajarkan kita bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama kita kembali kepada Allah dengan hati yang tulus dan penuh penyesalan atas kesalahan yang telah dilakukan.