عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ كُنْتُ أَبِيتُ عِنْدَ حُجْرَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنْتُ أَسْمَعُهُ إِذَا قَامَ مِنْ اللَّيْلِ يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الْهَوِيَّ ثُمَّ يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ الْهَوِيَّ (رواه النسائي:١٦١٧)
Artinya:Dari Rabi’ah bin Ka’b Al-AslamI r.a, ia berkata:“Aku pernah bermalam di dekat kamar Nabi salallahu ‘alaihi wasallam, maka aku mendengarnya ketika beliau bangun di malam hari, beliau mengucapkan: Subhanallahi Rabbil ‘alamin (Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) dengan suara lirih, kemudian beliau mengucapkan: Subhanallahi wa bihamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya) juga dengan suara lirih.”( H.R. an-Nasa’i:1617)
Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan dzikir di malam hari, yang merupakan amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Dalam cerita ini, Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami r.a. menceritakan bagaimana beliau pernah bermalam di dekat kamar Rasulullah SAW dan mendengar beliau bangun di malam hari. Rasulullah SAW mengucapkan kalimat “Subhanallahi Rabbil ‘alamin” (Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam) dan “Subhanallahi wa bihamdih” (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya) dengan suara lirih. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya memperbanyak dzikir, terutama di malam hari, sebagai bentuk pengagungan dan pujian kepada Allah. Dzikir malam bukan hanya memiliki keutamaan besar, tetapi juga menunjukkan kedekatan seorang hamba dengan Allah, di mana dalam keheningan malam, seorang Muslim dapat lebih fokus dan khusyuk dalam beribadah.