Hadis 7 Permohonan petunjuk dalam shalat malam


حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ: سَأَلْتُ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يفتتح صَلَاتَهُ، قالت:كان إذا قام من الليل افتتح صلاته قال,اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اللهم اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (رواه النساعي: ١٦٢٥)

قال الشيخ الألباني: حسن

 Abu Salamah bin ‘Abdurrahman telah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku bertanya kepada ‘Aisyah: dengan bacaan apa Rasulullah SAW membuka shalatnya? Beliau (‘Aisyah) menjawab: apabila beliau bangun di malam hari untuk shalat malam, beliau membuka shalatnya dengan doa: Allāhumma Rabb Jibrīl, wa Mīkā’īl, wa Isrāfīl. Fāṭiras-samāwāti wal-ardh, ‘Ālimal-ghaibi wasy-syahādah. Anta taḥkumu baina ‘ibādika fīmā kānū fīhi yakhtalifūn. Allāhumma ihdinī limakhtulifa fīhi minal-ḥaqq, innaka tahdī man tasyā’u ilā ṣirāṭin mustaqīm, (Artinya: Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan nyata. Engkaulah yang memutuskan perkara di antara hamba-hamba-Mu terhadap apa yang mereka perselisihkan, ya Allah, tunjukilah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan oleh mereka, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus) (HR al-Nasa’i:1625)

Syaikh Al-Albani menilai hadis ini hasan (baik).

Hadis ini menjelaskan salah satu doa iftitah yang dibaca SAW ketika memulai shalat malam (qiyamullail), do’a ini mencerminkan pengakuan terhadap kekuasaan Allah sebagai Tuhan para malaikat besar seperti Jibril, Mikail, dan Israfil, serta sebagai Pencipta langit dan bumi dan Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi maupun nyata, ini menunjukkan kedalaman tauhid dan penghambaan Nabi dalam mengawali ibadahnya.

Inti dari doa ini adalah permohonan petunjuk kepada kebenaran di tengah perbedaan, sebuah pelajaran penting bahwa ibadah dimulai dengan meminta hidayah agar tetap berada di jalan yang lurus. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi sendiri memohon bimbingan dalam kebenaran, dan bahwa hidayah hanya bisa diperoleh dengan kehendak Allah. Doa ini sangat relevan dalam kehidupan seorang mukmin yang menghadapi banyak perselisihan dan fitnah, dan merupakan doa penting untuk diamalkan dalam memulai shalat, terutama di malam hari.