Hadis 33 Rasulullah panjang dalam berdiri dan rukuk


عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ عَلِّمْنِى كَلاَمًا أَقُولُهُ قَالَ « قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ». قَالَ فَهَؤُلاَءِ لِرَبِّى فَمَا لِى قَالَ « قُلِ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَارْحَمْنِى وَاهْدِنِى وَارْزُقْنِى ». قَالَ مُوسَى أَمَّا عَافِنِى فَأَنَا أَتَوَهَّمُ وَمَا أَدْرِى. وَلَمْ يَذْكُرِ ابْنُ أَبِى شَيْبَةَ فِى حَدِيثِهِ قَوْلَ مُوسَى. (رواه مسلم: ٧٠٢٣)

Hadis dari Mus‘ab bin Sa‘d, dari ayahnya (Sa‘d bin Abi Waqqash), ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: ajarkan aku sebuah ucapan yang bisa aku ucapkan, maka beliau bersabda: katakanlah: Lā ilāha illallāh, waḥdahu lā syarīka lah, Allāhu akbaru kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi katsīrā, Subḥānallāhi Rabbil-‘ālamīn, lā ḥawla wa lā quwwata illā billāhil-‘azīzil-ḥakīm, orang itu berkata: itu untuk Rabb-ku. Lalu apa untukku? Rasulullah menjawab: katakanlah: allāhumma ighfir lī, warḥamnī, wahdinī, warzuqnī, (ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki). Musa berkata: adapun lafaz ‘aāfinī (berilah aku kesehatan)’, aku ragu-ragu aku tidak tahu apakah itu disebutkan atau tidak, dan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah, tidak disebutkan perkataan Musa tersebut (HR Muslim: 7023)

 

Hadis ini menunjukkan sederhananya ajaran Islam dalam mendekatkan diri kepada Allah, khususnya bagi orang awam atau yang baru belajar agama. Ketika seorang Arab Badui datang meminta diajari doa, Rasulullah mengajarkannya zikir yang agung dan mudah dihafal, yang mencakup pujian kepada Allah dan pengesaan-Nya: tahlil, takbir, tahmid, tasbih, dan hauqalah—semuanya mengandung makna tauhid, pengagungan, dan penyerahan diri kepada Allah.