Hadis 22 Bacaan Rasulullah yang penuh kekhusyukan


عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ أَوْ حِينَ يُمْسِى اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِى وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ بِنِعْمَتِكَ وَأَبُوءُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى إِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ. فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ لَيْلَتِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ. (رواه أبو داود: ٥٠٧٢)

Hadis dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengucapkan di waktu pagi atau sore: allāhumma anta Rabbī, lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa anā ‘abduka, wa anā ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu, a‘ūdzu bika min sharri mā ṣana‘tu, abū’u bini‘matika ‘alayya wa abū’u bidzanbī, faghfir lī, fa innahu lā yaghfiru adz-dzunūba illā anta, (ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau. Engkaulah yang menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan apa yang telah aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sungguh tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau), lalu ia meninggal pada hari itu atau malamnya, maka ia akan masuk surga. (HR Abu Daud: 5072)

 

Hadis ini menjelaskan keutamaan zikir yang dikenal sebagai “Sayyidul Istighfar” yakni zikir atau doa pengakuan dosa yang paling utama. Doa ini mencakup unsur tauhid (pengesaan Allah), pengakuan atas nikmat-Nya, pengakuan atas dosa, serta permohonan ampunan. Redaksinya sangat lengkap dan menyentuh aspek penghambaan secara utuh dari penciptaan, ketundukan, janji setia, hingga permintaan perlindungan dari kejahatan amal sendiri.