عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ. (رواه أبو داود: ١٤٩٧)
Hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa: ia pernah duduk bersama Rasulullah SAW lalu datang seorang laki-laki yang sedang shalat, kemudian ia berdoa: allāhumma innī as’aluka bi’anna laka al-ḥamda, lā ilāha illā anta, al-Mannān, badī‘us-samāwāti wal-arḍ, yā dzal-jalāli wal-ikrām, yā Ḥayy yā Qayyūm, (ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, karena Engkau-lah yang berhak atas segala puji, tidak ada Tuhan selain Engkau, yang Maha Pemberi karunia, Pencipta langit dan bumi, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri) (HR. Abu Daud: 1497)
Hadis ini menjelaskan adab dan keutamaan dalam berdoa kepada Allah. Seorang sahabat memulai doanya dengan pujian kepada Allah menggunakan nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang agung, seperti Al-Mannān (Maha Pemberi nikmat), Badi‘us-samāwāt wal-arḍ (Pencipta langit dan bumi), Dzūl-Jalāl wal-Ikrām (Pemilik keagungan dan kemuliaan), Al-Ḥayy dan Al-Qayyūm (yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri). Ini menunjukkan bahwa memulai doa dengan pujian adalah bagian dari adab doa yang sangat dianjurkan.