Hadis 14 Diamnya Rasulullah sebelum membaca al-Fatihah


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم- يَدْعُو « رَبِّ أَعِنِّى وَلاَ تُعِنْ عَلَىَّ وَانْصُرْنِى وَلاَ تَنْصُرْ عَلَىَّ وَامْكُرْ لِى وَلاَ تَمْكُرْ عَلَىَّ وَاهْدِنِى وَيَسِّرْ هُدَاىَ إِلَىَّ وَانْصُرْنِى عَلَى مَنْ بَغَى عَلَىَّ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِى وَاغْسِلْ حَوْبَتِى وَأَجِبْ دَعْوَتِى وَثَبِّتْ حُجَّتِى وَاهْدِ قَلْبِى وَسَدِّدْ لِسَانِى وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِى. (رواه ابن ماجه: ١٥١٢)

Hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Nabi Muhammad SAW biasa berdoa: Rabbi a‘innī wa lā tu‘in ‘alayya, wansurnī wa lā tanṣur ‘alayya, wāmkur lī wa lā tamkur ‘alayya, wahdinī wa yassir hudāya ilayya, wansurnī ‘alā man baghā ‘alayya. Allāhummaj ‘alnī laka syākiran, laka dzākiran, laka rāhiban, laka miṭwā‘an, ilayka mukhbitan aw munīban. Rabbi taqabbal tawbatī, waghsil ḥawbatī, wa ajib da‘watī, wa ṯabbit ḥujjatī, wahdi qalbī, wa saddid lisānī, waslul sakhīmata qalbī.” (Artinya: ya Rabbku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong orang lain untuk melawanku. Berilah aku kemenangan dan jangan beri kemenangan kepada lawanku atas diriku, buatlah rencana yang baik bagiku dan jangan Engkau buat rencana buruk terhadapku, tunjukilah aku dan mudahkan petunjuk-Mu kepadaku, berilah aku pertolongan terhadap siapa yang berbuat aniaya kepadaku, ya Allah, jadikanlah aku hamba-Mu yang bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, taat kepada-Mu, tunduk dan kembali kepada-Mu, wahai Rabbku, terimalah tobatku, cucilah dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, dan hilangkanlah penyakit hati dariku (HR Ibnu Majah:1512)

 

Hadis ini mengandung doa yang sangat luas dan dalam dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mencerminkan kerendahan hati, kebergantungan total kepada Allah, serta permohonan perlindungan dari segala keburukan lahir dan batin. Doa ini mencakup permintaan pertolongan, kemenangan, hidayah, kemudahan, dan keselamatan dari makar musuh, serta agar Allah tidak menyerahkan urusan hamba kepada siapa pun selain-Nya. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus menggantungkan segala urusannya hanya kepada Allah.