سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِىَ خِدَاجٌ هِىَ خِدَاجٌ هِىَ خِدَاجٌ غَيْرُ تَمَامٍ. فَقُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ إِنِّى أَحْيَانًا أَكُونُ وَرَاءَ الإِمَامِ. فَغَمَزَ ذِرَاعِى وَقَالَ اقْرَأْ بِهَا يَا فَارِسِىُّ فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم اقْرَءُوا يَقُولُ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَمِدَنِى عَبْدِى يَقُولُ الْعَبْدُ ( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى يَقُولُ الْعَبْدُ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَجَّدَنِى عَبْدِى يَقُولُ الْعَبْدُ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) فَهَذِهِ الآيَةُ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ يَقُولُ الْعَبْدُ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) فَهَؤُلاَءِ لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ (رواه البخاري: ٩١٧)
Aku mendengar Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa yang shalat dan tidak membaca Ummul Qur’an (Surah Al-Fatihah) di dalamnya, maka shalatnya itu tidak sempurna tidak sempurna tidak sempurna, kemudian Abu Hurairah menambahkan, (Shalat itu) tidak lengkap, aku (perawi) berkata: wahai Abu Hurairah, terkadang aku berada di belakang imam (sebagai makmum), lalu Abu Hurairah mendorong lenganku dan berkata: bacalah ia (Al-Fatihah) dalam dirimu, wahai orang Farisi, karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah SWT berfirman: aku telah membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Setengahnya untuk-Ku dan setengahnya untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Rasulullah SAW bersabda: bacalah (Al-Fatihah)! Ketika hamba berkata: alhamdulillāhi Rabbil-‘ālamīn, Allah berfirman: hamba-Ku telah memuji-Ku, ketika hamba berkata: ar-Raḥmānir-Raḥīm, Allah berfirman: hamba-Ku telah menyanjung-Ku, ketika hamba berkata: Māliki Yawmid-Dīn, Allah berfirman: hamba-Ku telah mengagungkan-Ku, ketika hamba berkata: Iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn), Allah berfirman: ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Ketika hamba berkata: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ṣirāṭallażīna an‘amta ‘alaihim, ghairil-maghḍūbi ‘alaihim wa laḍḍāllīn), Allah berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. (HR al-Bukhari: 917)
Hadis ini menjelaskan pentingnya membaca Surah Al-Fatihah dalam setiap shalat, baik bagi imam, makmum, maupun orang yang shalat sendirian. Rasulullah SAW menegaskan bahwa shalat tanpa Al-Fatihah adalah tidak sempurna, dan Abu Hurairah mendukung pernyataan tersebut dengan mengisyaratkan agar tetap membaca Al-Fatihah meskipun di belakang imam, namun secara sirr (dalam hati). Ini menjadi dalil bahwa makmum pun dianjurkan membaca Al-Fatihah, terutama dalam shalat yang bacaannya tidak dikeraskan.