عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ مَالِكِ بْنِ رَبِيعَةَ السَّاعِدِيِّ رضي الله عنه قَالَ:
بَيْنَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلِمَةَ, فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ وَالِدَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا؟ قَالَ:
نَعَمْ: الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا، وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا، وَإِنْفَاذُ عُهُودِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا، وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا، وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا.
Dari Abū Usaid Mālik bin Rabī‘ah as-Sā‘idī ra, ia berkata:
Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, datang seorang laki-laki dari Bani Salimah, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah masih ada kewajiban berbakti kepada kedua orang tuaku yang bisa aku lakukan setelah mereka wafat?” Beliau ﷺ menjawab:
“Ya, yaitu: mendoakan keduanya, memohonkan ampun untuk keduanya, menepati janji mereka setelah wafatnya, menyambung silaturahmi yang tidak dapat tersambung kecuali melalui keduanya, serta memuliakan sahabat-sahabat mereka.”