Keutamaan Surat Al-Ikhlas (1)


عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه – كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِى مَسْجِدِ قُبَاءٍ ، وَكَانَ كُلَّمَا افْتَتَحَ سُورَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِى الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ افْتَتَحَ بِپ ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا ، ثُمَّ يَقْرَأُ سُورَةً أُخْرَى مَعَهَا ، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ ، فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ فَقَالُوا إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّورَةِ ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى ، فَإِمَّا أَنْ تَقْرَأَ بِهَا وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى . فَقَالَ مَا أَنَا بِتَارِكِهَا ، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ . وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ ، فَلَمَّا أَتَاهُمُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَخْبَرُوهُ الْخَبَرَ فَقَالَ « يَا فُلاَنُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُومِ هَذِهِ السُّورَةِ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ » . فَقَالَ إِنِّى أُحِبُّهَا . فَقَالَ « حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ (رواه البخاري ٧٧٤)

Artinya: Dari Anas semoga Allah meridhainya, bahwa ada seorang laki-laki dari kalangan Anshar yang menjadi imam di Masjid Quba. Setiap kali ia membaca surat dalam salat, ia selalu memulai dengan Surat al-Ikhlash (Qul Huwallahu Aḥad) hingga selesai, kemudian baru membaca surat lain sesudahnya. Ia melakukan hal itu di setiap rakaat. Para sahabatnya pun berkata kepadanya, “Kamu selalu membuka dengan surat ini, lalu tidak merasa cukup sebelum membaca surat lain. Jadi bacalah salah satu saja atau tinggalkan itu dan baca yang lain.” Ia menjawab, “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian senang aku mengimami dengan cara ini, aku lanjutkan. Kalau tidak, aku akan berhenti.” Mereka menganggap ia adalah orang terbaik di antara mereka dan enggan digantikan oleh orang lain. Ketika Nabi SAW datang, mereka menceritakan hal itu kepadanya. Nabi SAW bersabda, “Wahai fulan, apa yang membuatmu tidak melakukan apa yang diminta sahabat-sahabatmu? Dan apa yang membuatmu selalu membaca surat itu dalam setiap rakaat?” Ia menjawab, “Karena aku mencintainya.” Maka Nabi SAW bersabda, “Cintamu kepadanya telah memasukkanmu ke dalam surga.”(HR. Al-Bukhari: 774)

Hadis ini menunjukkan keutamaan Surat al-Ikhlas dan besarnya pahala mencintai isi kandungan Al-Qur’an. Imam dari kaum Anshar itu istiqamah membaca surat tersebut karena kecintaannya, bukan karena kebiasaan semata. Surat ini menggambarkan tauhid secara murni tentang keesaan Allah, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan mencintainya menunjukkan kecintaan pada akidah yang benar.