Keutamaan Menuntut Ilmu (1)


عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِى الدَّرْدَاءِ فِى مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّى جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ -صلى الله عليه وسلم- لِحَدِيثٍ بَلَغَنِى أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ. قَالَ فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ (رواه ابوداود ٣٦٤٣)

Artinya: Dari Katsir bin Qais, ia berkata: Aku duduk bersama Abu Darda di Masjid Damaskus, lalu datang seorang lelaki dan berkata, “Wahai Abu Darda, aku datang kepadamu dari Kota Rasulullah SAW karena ada sebuah hadis yang sampai kepadaku bahwa engkau meriwayatkannya dari Rasulullah SAW. Aku tidak datang untuk suatu keperluan selain hadis itu.” Maka Abu Darda berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Para malaikat meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu. Sungguh, makhluk yang ada di langit dan di bumi memintakan ampun untuk orang yang berilmu, bahkan ikan-ikan di laut pun turut memintakan ampun. Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang besar.(HR. Abu Daud: 3643)

Hadis ini menunjukkan kemuliaan menuntut ilmu dalam Islam, serta keutamaan orang yang berilmu atas sekadar ahli ibadah. Ilmu bukan hanya jalan menuju pemahaman, tapi juga jalan menuju surga, dan penuntutnya mendapatkan kedudukan istimewa di sisi Allah, bahkan didoakan oleh seluruh makhluk. Perumpamaan ulama dengan bulan purnama menunjukkan bahwa cahaya dan pengaruh mereka jauh melebihi yang lain, sebagaimana nabi-nabi yang tugasnya menerangi umat.