Teks Hadis
Sanad dan Matan
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Terjemahan Indonesia
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar zarrah.”
Perawi Hadis
Sahabat Perawi: Abu Hurairah
Mukharrij:
- Imam Muslim
Penjelasan
Hadis ini menegaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang sangat berbahaya dalam akhlak seorang manusia. Sombong dalam Islam berarti menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Bahkan kesombongan sekecil apa pun dalam hati dapat menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan kebaikan di sisi Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa kesombongan memiliki dua bentuk utama: menolak kebenaran ketika datang kepadanya, dan merendahkan orang lain. Seseorang bisa saja terlihat sederhana secara penampilan, tetapi tetap sombong jika ia merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Sebaliknya, seseorang yang rendah hati tidak akan meremehkan orang lain meskipun ia memiliki kelebihan.¹
Dalam kehidupan sehari-hari, sifat sombong sering muncul dalam bentuk membanggakan diri, meremehkan teman, atau tidak mau menerima pendapat orang lain. Islam mengajarkan agar seorang muslim bersikap rendah hati, karena semua kelebihan yang dimiliki manusia berasal dari Allah. Dengan sikap rendah hati, seseorang akan lebih mudah diterima dalam pergaulan dan lebih disukai oleh orang lain.²
Contoh Penerapan di Sekolah
- Tidak meremehkan teman yang nilainya lebih rendah.
- Mau bekerja sama dalam kelompok tanpa merasa paling hebat.
- Menerima kritik dari guru dan teman dengan baik.
- Tidak membanggakan diri secara berlebihan.
Contoh Penerapan di Rumah
- Menghormati anggota keluarga tanpa merasa lebih tinggi.
- Tidak membandingkan diri secara merendahkan orang lain.
- Bersikap sopan kepada semua anggota keluarga.
- Mau membantu tanpa merasa paling berjasa.
Footnote
¹ Syarh Shahih Muslim, karya Imam an-Nawawi, Kitab al-Iman, Bab Tahrim al-Kibr wa Bayanuhu.
² Fath al-Bari, karya Ibnu Hajar al-Asqalani, Juz 10, Kitab al-Adab, pembahasan tentang hakikat kesombongan.
³ Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali, penjelasan tentang bahaya sombong dan keutamaan tawadhu’.